Tradisi Lebaran di Dusun Jagul Desa Sendangrejo, Lamongan

Selamat malam, selamat bermalam minggu, ini adalah postingan pertama saya, setelah bertahun-tahun mendiamkan blog ini, akhirnya terketuk hati saya untuk mengisi blog ini (sebenernya sih disuruh temen buat mosting). Meskipun susunan kata saya agak kaku, semoga anda enjoy dengan postingan saya.

Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya berlebaran di kampung halman bapak saya. Meskipun lenbaran sudah lewat, tapi kisahnya tidak terlupakan. Mirip kenangan mantan gitu. Oke, langsung saja daripada nanti baper.

Lebaran Idul Fitri merupakan salah satu momen yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim karena lebaran diibaratkan sebagai “hadiah” setelah kita diperintahkan untuk menahan nafsu, lapar dan haus selama sebulan. Berbicara tentang lebaran, ada tradisi mudik yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat yang tinggal di daerah perantauan. Saya pun tidak ketinggalan untuk melakukan tradisi ini setiap tahun. Bersama kedua orang tua dan adik saya, kami mudik ke kabupaten Lamongan. Kami menempuh satu jam perjalanan karena jarak antara kampung halaman dan tempat tinggal sekarang (Gresik) hanya terbentang beberapa kilometer saja. Biasanya kami mudik beberapa hari sebelum lebaran, tahun ini kami mudik enam hari sebelum lebaran.
Di kampung halaman tepatnya di Dusun Jagul, Desa Sendangrejo, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan, ada beberapa tradisi menjelang hingga hari H lebaran, diantaranya cinjo, unjung, megengan, takbiran,dan yang terakhir merconan.
1.      Cinjo
Tradisi ini adalah tradisi dimana seseorang datang ke rumah saudara-saudaranya yang lebih tua dan memberikan bingkisan berupa sembako, buah, makanan ringan, ikan, dan lain-lain. Ibu dan bapak saya yang merupakan anak terakhir di keluarganya, setiap tahun selalu melakukan tradisi ini, biasanya beliau memberikan gula, minyak atau ikan bandeng (biasanya beli di pasar bandeng, Gresik) kepada saudara-saudaranya yang lebih tua.
2.      Unjung
Unjung atau istilah kerennya: halal bi halal yaitu tradisi mengunjungi sanak saudara pada hari H lebaran tepatnya usai melaksanakan shalat idul adha. Saya dan keluarga biasanya melaksanakan unjung di siang dan sore hari. Siang hari sekitar pukul 10.00 WIB kami bersiap-siap mengunjungi saudara yang jarak rumahnya tidak terlalu jauh dengan rumah nenek. Satu per satu rumah saudara kami kunjungi, biasanya di setiap rumah, disuguhkan makanan dan minuman yang sudah terjejer di ruang tamu. Kami tak sungkan untuk mencicipi makanan dan minuman yang disediakan. Kata orang-orang disana “nek gak diicipi jajane, gak bate” (kalau tidak dicicipi makanannya, berarti bukan saudara). Setelah makan dan mengobrol, anak-anak yang masih usia sekolah diberi sangu oleh saudara yang telah bekerja. Sangu adalah uang atau istilah kerennya: angpau. (Alhamdulillah saya masih dapat jatah sangu). Dan ketika sore hari, kami sekeluarga mengunjungi saudara yang berada di luar desa. Biasanya, saudara yang telah dikunjungi, bergantian mengunjungi rumah kami, sebagai bentuk balasan.
3.      Megengan
Tradisi ini untuk menutup bulan Ramadhan dan menyambut Hari Raya Idul Fitri yang dilaksanakan pada malam terakhir bulan Ramadhan. Megengan dilaksanakan di setiap rumah warga. Biasanya, para ibu menyiapkan berkat, yaitu suguhan yang berisi nasi, lauk dan makanan ringan untuk para tamu yang hadir pada acara megengan. Acara ini dihadiri oleh sejumlah laki-laki yang diundang oleh tuan rumah. Acara tersebut diisi dengan pembacaan do’a dan berlangsung cukup singkat, mengingat banyak rumah yang mengadakan acara yang sama dan harus dihadiri. Tradisi ini bertujan mengharapkan keberkahan di bulan Ramadhan dan setelah Ramadhan.
4.      Takbiran
Pembacaan takbir sunnah dilakukan pada satu malam sebelum hari raya hingga hari raya tiba. Biasanya, pembacaan takbir dilakukan di masjid. Namun, di desa Jagul, para pemuda-pemudi melakukan tradisi membaca takbir dengan mengelilingi desa. Pada malam sehari sebelum hari raya mereka ramai-ramai mengumandangkan takbir dengan membawa obor ditangannya. Di samping kiri kanan jalan desa, berjejer oblek yaitu penerangan yang dibuat dari botol kaca bekas didalamnya berisi sumbu dan bensin. Warga sekitar diwajibkan mematikan lampu depan rumahnya agar acara takbiran berlangsung khidmat.
5.      Merconan
Tradisi merconan yaitu tradisi membakar petasan dan kembang api. Tradisi ini dilakukan baik anak-anak maupun orang dewasa. Mereka membeli sejumlah petasan dan kembang api lalu dibakar di depan rumah masing-masing untuk menyemarakkan hari raya. Tradisi ini dilakukan pada malam sehari sebelum hari raya hingga hari kedua setelah hari raya. Sedikit pengalaman saya pada hari raya tahun ini, setelah saya mengikuti takbiran, saya dan pemuda-pemudi lainnya berkumpul di depan masjid untuk mengumandangkan takbir disana. Namun, sejumlah anak menyalakan petasan di depan saya dan sejumlah anak dari arah lain ikut menyalakan dan melempari petasan, akhirnya terjadi perang petasan. Karena saya takut terhadap petasan, saya minggir dan mencoba melindungi adik sepupu saya yang masih kelas 2 SD agar terhindar dari cipratan api dari petasan tersebut. Namun, dia lebih berani dari saya, dia memegang tangan saya lalu berlari kecil-kecil menyebrangi perang petasan itu. Ternyata dalang dari perang petasan itu adalah kakak sepupu dan adik saya sendiri, sontak aku memarahi mereka. Tradisi ini tidak terlalu baik menurut saya, karena resiko yang ditimbulkan cukup besar. Membakar petasan dapat melukai diri sendiri dan orang lain. Dan membakar petasan hanyalah membuang uang saja. Sebaiknya ada tradisi lain yang lebih bermanfaat.
                                                                                                             
Demikian tulisan saya malam ini, kritik dan saran yang membangun sangatlah membantu saya untuk penulisan selanjutnya, terima kasih, wassalamu’alaikum  ^^

Comments

  1. tulisannya cuma satu? lihat ini juga baru buat catatanputhut.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Kang putut kok iso nyasar nang blog iki.. kunjungi juga muhtadin66.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. Apik isine .. biyen asale unjunge bengi .. saiki ganti isuk 🙂

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kisah Perjalanan Menggapai Ridho-Nya (2)

Senja di Langit Tainan

Pacaran, yes or no?