Senja di Langit Tainan
Assalamu’alaikum,
selamat malam.
Bagi yang gabut, nih
aku share cerpen pertama yang berhasil aku selesaikan demi persyaratan
mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik di kampusku, cerpen ini aku tulis
pada tanggal 9 Oktober 2015. Mohon maaf jika garing/ biasa aja/ nggak berkesan,
karena nulis ginian bukan bidangku hehe, aku lebih suka nulis berita/ artikel, yaa
meskipun amatiran. Btw makasih buat temenku, Alfian yang sedang kuliah di Taiwan yang telah menjadi inspirasi cerpen ini ^^
Selamat mambaca, jangan lupa tulis kritik dan saran yaa~
Senja di Langit Tainan
Aku
berjalan lurus dengan membawa beberapa buku tentang desain yang aku pinjam dari
perpustakaan kampus. Lorong-lorong kampus mulai sepi karena jam telah menunjuk
angka 11 malam. Kampusku berada di kota Tainan, kota yang terletak di sebelah
barat daya negara Taiwan.
“Hai
Fan, kau belum pulang?” sapa Richard teman sekelasku, ia adalah mahasiswa asal
Indonesia yang mendapat beasiswa, sama sepertiku.
“Hai,
ini mau ke asrama” sahutku.
“Oke, aku juga mau balik ke asrama.”
Kami
berjalan beriringan, ketika sudah sampai gerbang asrama, kami berpisah.
Ketika
sudah sampai kamar, aku membanting tubuhku yang rasanya mau remuk. “Hhh, hari
yang melelahkan” batinku. Hari ini aku masuk kelas jam 8 pagi hingga 5 sore,
lalu kerja part time di kantin kampus
selama satu jam, dan lanjut kuliah hingga malam. Aku pejamkan mataku sebentar
lalu menyalakan komputer dan membuka akun Facebookku.
Banyak notifikasi yang belum sempat aku baca, kebanyakan dari kekasihku yang
berada di Indonesia. Dia bernama Silvia. Sosok wanita yang ceria, menyenangkan,
namun sedikit menyebalkan. Dia sudah aku pacari sejak 3 tahun yang lalu. Dan
sudah setahun kami menjalani hubungan jarak jauh. Aku mencintainya, aku yakin
dia juga merasakan hal yang sama.
Telfon
genggamku berbunyi, ternyata telfon dari Silvia.
“Sayaaang”
teriaknya.
“kamu
kemana aja? seminggu gak ada kabar, aku nungguin kamu tau nggak?” omelnya.
Aku
tersenyum mendengar suaranya yang khas.
“Maaf,
aku sedang mengerjakan proyek untuk ujian tengah semester, kamu tahu kan kuliah
ku semester ini lumayan padat, aku juga kerja, mohon pengertiannya ya” sahutku.
Setelah
beberapa menit berbicara, telfon kututup. Aku melihat keluar jendela kamar, melihat
bulan yang katanya terlihat sama jika dipandang dari belahan bumi manapun. Aku
mengehela nafas panjang, mematikan lampu kamar dan tidur.
***
Pagi
ini aku berangkat ke kampus pagi-pagi karena ada kegiatan kampus berupa outbond
untuk mahasiswa Internasional. Aku di tim Hijau yang sebagian pesertanya aku
kenal baik karena sama-sama berasal dari Indonesia. Kami berangkat menggunakan
bus. Aku duduk di dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan luar.
“Fan,
aku boleh duduk sini? Kursi lain sudah penuh.”
Aku mendongakkan kepalaku, kulihat
Inggrid, mantan kekasihku yang juga mendapat
beasiswa
di kampus ini.
“Oh
iya boleh” sahutku.
Aku
sedikit canggung berada di sisinya. Kami berbincang sepanjang perjalanan,
lambat laun aku merasa nyaman saat mengobrol dengannya. Tiga hari di lokasi
outbond membuatku dekat lagi dengan Inggrid, kami sering menghabiskan waktu
bersama dan sesekali foto bersama.
Sebulan
berlalu, Silvia jarang menghubungiku karena dia sibuk berorganisasi. Ada hal
lain dari diriku, aku tidak cemas dengan sikap Silvia yang seperti itu, walau
kita sudah berkomitmen untuk tetap berkomunikasi setiap hari. Anehnya, aku merasa
gusar ketika melihat Inggrid sedang bertemu dengan seorang lelaki di taman
kampus, mereka begitu akrab, namun wajah lelaki itu tidak jelas karena aku
melihatnya dari kelasku yang berada di lantai empat.
Kelas
olahragaku dengan Inggrid di jam yang sama, kesempatan bagus untuk melihat
senyumnya.
“Tofan,
kau melamun?” Aku tersentak, Inggrid sudah didepanku.
“Oh,
hai” sapaku gugup.
“Aku
lihat kau suka memperhatikanku atau mungkin perasaanku saja?.”
Pertanyaan
Inggrid membuatku lebih gugup.
“Ah..
Aku..”
“Kau
sudah punya Silvia kan? Jangan menyakitinya, dia calon adik iparku”
Aku
terbelalak dengan pernyataan Inggrid
“Apa?”
“Ya,
dia calon adik iparku, aku sudah berkencan dengan kakaknya hampir setahun ini”
“Jangan
bercanda, Silvia tidak pernah menceritakannya kepadaku”
Memang
Silvia kurang terbuka mengenai kakaknya, karena ia iri dengan kakaknya yang
diperbolehkan orang tuanya kuliah di Jepang sedangkan ia tidak. Jadi ketika aku
bertanya soal kakaknya, ia bungkam dan langsung mengubah topik pembicaraan.
“Aku
sudah dilamar kakaknya, kemarin, dia menemuiku di kampus, rasanya senang
sekali” kata Inggrid dengan mata berbinar
“Selamat
ya”
***
Kupandangi
senja sore ini, warnanya kacau, tidak merah, tidak kuning, sama seperti
perasaanku. Aku merasa bersalah dengan apa yang aku lakukan terhadap Silvia.
Aku telah mengkhianatinya meskipun dia tidak tahu. Bodoh sekali, menyukai
seseorang padahal sudah memiliki kekasih. Hal ini aku buat sebagai pelajaran, harus
kubuang jauh-jauh perasaanku ke Inggrid dan lebih mencintai Silvia yang telah
setia.
Comments
Post a Comment